Fakultas Pertanian Universitas Jember Perkuat Penjaminan Mutu dan Persiapan Akreditasi
Jember, 4 Februari 2026 – Fakultas Pertanian Universitas Jember menggelar Rapat Koordinasi Pimpinan bersama Tim GPM (Gugus Penjaminan Mutu) dan UPM (Unit Penjaminan Mutu) di lingkungan fakultas pada Rabu, 4 Februari 2026. Bertempat di Ruang Sidang Lantai 2 Dekanat, rapat ini dihadiri oleh Dekan, para Wakil Dekan, serta seluruh anggota Tim GPM dan UPM. Agenda utama rapat adalah menyelaraskan langkah strategis dalam penjaminan mutu akademik dan non-akademik, sekaligus mematangkan persiapan akreditasi program studi.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Pertanian menegaskan bahwa GPM memiliki peran sentral dalam implementasi SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal) sebagaimana diatur dalam peraturan nomor 39. GPM bertugas mengevaluasi kebijakan dan pelaksanaan pengajaran, penelitian, serta pengabdian di setiap unit kerja. “Setiap akhir tahun, GPM harus menyusun laporan untuk rapat senat yang mencakup data di segala aspek tri dharma, termasuk daya saing program studi. Renstra dan RenBis fakultas menjadi pedoman utama agar indikator kinerja dapat tercapai dan iklim akademik yang berkualitas semakin terasa,” ujarnya.
Wakil Dekan I menekankan pentingnya sinergi antara GPM, UPM, dan pimpinan fakultas tidak hanya dalam evaluasi pembelajaran, tetapi juga dalam aspek lainnya. Ia mengingatkan bahwa masih ada laporan daya saing dari beberapa prodi yang belum dikirim. Selain itu, Asesmen Lapang untuk Program Studi Proteksi perlu segera dilakukan, dan data akreditasi untuk Prodi Proteksi, Ilmu Tanah, serta Ilmu Pertanian (Perkebunan) harus diperbarui. Sementara itu, Prodi Peternakan dan Penyuluhan diminta mempersiapkan diri menghadapi asesmen lapang oleh LAM-PTIP.
Wakil Dekan III menyoroti pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU), terutama yang berkaitan dengan ketercapaian CPL (Capaian Pembelajaran Lulusan) dan penggunaan metode pembelajaran seperti CM (Case Method) dan PBL (Project Based Learning). Ia juga mendorong eksplorasi pendirian prodi baru yang marketable, seperti Perikanan dan Kehutanan, serta pengembangan program S2 unggul berstandar ASIIN. “Komunikasi yang kuat antar anggota tim baru sangat diperlukan agar setiap agenda kerja dapat dipahami dan dijalankan dengan baik. Sumber data harus terhimpun rapi karena pada pertengahan tahun pimpinan akan diminta melaporkan pencapaian IKU,” tambahnya.
Wakil Dekan II menggarisbawahi pentingnya penjaminan mutu akademik dan non-akademik. Ia meminta agar catatan-catatan hasil evaluasi segera ditindaklanjuti, termasuk kelengkapan RPS (Rencana Pembelajaran Semester) di setiap prodi. “UPM berfungsi mengevaluasi dan mengingatkan kinerja prodi. Jika ada rapat yang kurang atau bahkan tidak dilaksanakan, laporkan kepada pimpinan. Evaluasi juga perlu dilakukan terhadap kinerja UKM, terutama terkait diklat dan pengkaderan,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa usulan pendirian prodi baru harus mempertimbangkan saran dari Tim GPM.
Koordinator GPM, Dr. Ir. Laily Ilman Widuri, S.P., memaparkan sejumlah agenda strategis yang perlu segera dieksekusi. Monitoring dan evaluasi (monev) pembelajaran akan terus dilakukan dengan membagikan progres dan laporan kendala dari setiap unit. Rekomendasi dan tindak lanjut harus diisi dengan kalimat yang tepat, dan dokumen penting seperti hasil audit agar diunggah di website. Koordinasi dengan tim IKU, ZI-WBK, PKMA, PPTM, Kerjasama, MBKM, dan pengelola website prodi juga diperlukan untuk memenuhi kelengkapan dokumen.
Lebih lanjut, Bu Laily menyampaikan beberapa pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan, antara lain:
Monev pembelajaran,
Penyelesaian laporan daya saing,
Rapat Tinjauan Manajemen (RTM) untuk menindaklanjuti temuan,
Penguatan SPMI Fakultas,
Persiapan akreditasi LAM-PTIP untuk Peternakan dan Penyuluhan pada 2027, dengan sinkronisasi dokumen matriks penilaian di Sijamu agar memudahkan tim task force,
Penyesuaian kurikulum dengan prinsip SDG's.
Sementara itu, Dr. Illia selaku perwakilan Tim GPM melaporkan progres monev pembelajaran. Dari 11 prodi, semuanya masih dalam proses telaah, termasuk kesesuaian RPS. Progres ketercapaian CPL baru dilaporkan oleh dua prodi, yaitu Ilmu Tanah dan Magister Agribisnis. Salah satu kendala utama adalah penggunaan dua kurikulum yang mengakibatkan mata kuliah ganda dan mengganggu ketercapaian CPL. “Kendala ini tidak hanya dialami Fakultas Pertanian, tetapi juga fakultas lain. Kami akan segera mengonfirmasi ke LPMPP untuk mencari solusi,” jelasnya. Selain itu, akses Google Drive perlu diberikan dan website fakultas diperbaiki agar menu GPM dan UPM tampil di halaman awal.
Dalam sesi tanya jawab, sejumlah pertanyaan mengemuka, antara lain terkait besaran honorarium Tim GPM dan UPM, pelibatan UPM dalam kegiatan benchmarking, serta kendala teknis mata kuliah yang muncul di identitas tetapi tidak di asesmen. Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan III menyarankan untuk mengecek SBU (Surat Bukti Umum) bahwa tim dapat mengajukan honor orang bulan. Dekan menyetujui rencana benchmarking dengan mengikutsertakan UPM. Untuk permasalahan teknis dan pendampingan kurikulum ganda, akan dikonsultasikan ke LPMPP.
Rapat ditutup dengan kesimpulan bahwa diperlukan integrasi, akselerasi, dan evaluasi berkelanjutan dalam sistem penjaminan mutu fakultas. Fokus ke depan adalah menyelesaikan laporan tertunda, mempersiapkan akreditasi dengan matang, mengatasi kendala kurikulum, serta memperkuat infrastruktur data guna mendukung seluruh proses penjaminan mutu dan pencapaian IKU fakultas. Rapat ini sekaligus menjadi momentum penguatan komitmen bersama untuk mewujudkan tata kelola akademik yang unggul dan berdaya saing.